Banyak kelas memasak di daerah wisata berjalan seperti kelas di sekolah: bahan sudah tersaji rapi dalam mangkuk kecil, resep tercetak, dan peserta tinggal mengikuti urutan.
Kelas memasak Jawa yang sebenarnya tidak seperti itu.
Dimulai dari kebun, bukan dari mangkuk
Bahan diambil langsung dari kebun. Anda akan diminta mengenali daun kemangi, salam, dan serai dalam bentuk aslinya, bukan sudah tercacah. Bagian ini sering jadi kejutan pertama bagi tamu.
Cobek batu, bukan blender
Bumbu Jawa dihaluskan dengan cobek batu. Prosesnya memang lebih lama dan lebih melelahkan, tapi teksturnya berbeda dan aromanya keluar dengan cara yang tidak bisa ditiru mesin.
Tidak ada takaran pasti
Ini yang paling membingungkan sekaligus paling menarik. Ibu-ibu yang memandu jarang menyebut angka. Mereka bilang secukupnya, lalu mencicipi, lalu menyesuaikan. Yang diajarkan sebenarnya bukan resep, melainkan cara merasakan.
Makan bersama, duduk di lantai
Sesi selalu berakhir dengan makan bersama. Di titik ini biasanya percakapan mengalir ke hal-hal di luar masakan: keluarga, panen, kehidupan di lereng gunung.
Kalau Anda tertarik mencoba, kelas kami digelar di lereng Merapi dengan udara pegunungan dan pemandangan terbuka.